Lelaki dari Masa Depan

Di sebuah pojok kafe yang temaram lampunya tak terlalu terang, duduk tertunduk lesu seorang pria muda bertampang seadanya. Pandangannya kosong, jarinya mungkin sudah lelah mengitari bibir gelas frappucino yang tinggal separuh isinya.

Di sudut kafe baca itu dulu mereka sering menghabiskan waktu dengan beberapa karya Edgar Allan Poe, beberapa puluh lembar perihal cinta, sejumlah argumen mengenainya dan cubitan-cubitan kecil di sela tawa renyah. Dulu. Itu dulu. Karena sebuah ego yang meledak, akhirnya mereka terpisah karena emosi dan berakhir dengan penyesalan.

“Bro, sudahlah, bro! Bahkan bila danau sunter berubah menjadi alkohol dan kau minum semua airnya, itu hanya akan mampu melepaskan penatmu sementara” Ujar sahabatnya, Bara. “Tak perlulah kau terus sia-siakan badanmu itu, yang bisa kau lakukan ada tiga; perbaikilah keadaan jika kau bisa atau yang paling klise: lepaskan, ikhlaskan. Pilihan terakhir jika memang semua tak mampu kau lakukan; bunuh dirilah, tapi bukan bunuh diri yang bodoh. Bunuh dirilah dengan elegan, bukan dengan narkoba, miras oplosan, gaya hidup awut-awutan, tali jemuran, pisau dapur atau pistol atau jurang. Bunuh dirilah dengan berwibawa hahaha”

“Bunuh diri macam apa itu? Apa aku harus melihat komedi show sehingga aku terbahak-bahak dan tersedak hingga mati. Atau aku harus melihat tingkahmu yang berusaha membanyol dan berakhir dengan suara jangkrik?”

“Maksudku, kau boleh mati namun jangan dengan kesia-kesiaan”

“…hmm…”.

Sore itu berlalu dengan gelak tawa Bara yang berusaha menghibur sahabatnya, Tobi. Tobi tersenyum kosong. Jauh di pikirannya dia benar-benar memikirkan apa yang telah diucapkan sahabatnya tadi.

—–

Dua minggu sejak pertemuan terakhir di kafe itu, dua sahabat itu tak lagi bertemu atau sekedar berkirim sms. Tobi mematikan teleponnya sejak 2 minggu lalu mengajukan cuti panjang dari kantornya. Dia menenggelamkan diri di dalam gudang atau bengkel atau laboratorium atau mungkin lebih tepatnya adalah ruangan pengap yang berisi perkakas pribadi miliknya. Sore itu dia sudah merampungkan semua yang dia kerjakan selama 2 minggu ini. Dia menelepon sahabat karibnya itu untuk datang menemuinya.

“Bar, satu jam lagi aku tunggu di rumahku”

“Kabarku baik, pohon mangga depan rumahku sudah mulai berbuah, kerjaanku lancar, hubunganku dengan Ninda baik-baik saja. Hai kawan, bisakah kau basa-basi dikit? Setelah dua minggu kau menghilang, akhirnya meneleponku dan hanya berkata beberapa kata?”

“Ah sudahlah, waktuku terlalu penting untuk sekedar basa-basi. Aku tunggu 1 jam lagi di rumahku”

“Tut… tut… tut… tut….” Tobi langsung mematikan telepon.

Bara segera menuju rumah sahabatnya yang berjarak 45 menit dari rumahnya.

“Tok… tok… tok…”
“Ayo masuk, kita langsung ke ruanganku” Ucap Tobi yang terburu-buru

“Setidaknya tawari aku minum dulu…”

“Nanti kita bisa minum di sana. Aku ajak kau berpetualang” Kata Tobi sambil menarik tangan Bara yang hanya bisa mengernyitkan dahinya.

Masuklah mereka ke ruangan bercat lusuh namun sangat terang sekali lampu-lampu di dalamnya.

“Wow… Jadi ini yang kau kerjakan selama ini? Jelaskan apa ini?”

“Bar, aku benar-benar memikirkan ucapanmu tempo dulu”

“Weit, aku telah berkata apa padamu? Ucapan apa?”

“Tentang bunuh diri elegan”

“Ah kawan, itu hanya pepesan kosong, hanya ucapan basa-basi seorang sahabat kepada kawannya yang sedang galau”

“Tapi ucapanmu ada benarnya dan inilah hasil dari pemikiranku selama ini”

“Apa ini?”

“Ini adalah mesin waktu dan kita berdua akan melakukan perjalanan waktu”

“Aku tak berani. Bagaimana bila gagal dan kita terjebak dalam black hole?”

“Aku belum pernah mencobanya tapi aku jamin alat ini pasti berhasil. Tenang, lagipula kita pun mungkin hanya menggunakannya selama setengah jam”

“Baiklah, tapi kau harus menanggung semua yang terjadi bila sesuatu menimpa diriku”

“Kebanyakan basa-basi”

Tobi segera menyalakan alat itu. Alat yang berbentuk seperti topi ulang tahun raksasa yang di ujung atasnya ada dua buah alat penangkap gelombang yang berputar pelan. Setelah mengatur waktu mundur ke angka 1 tahun 3 bulan 24 hari, Nobi segera menekan tombol merah besar di sebelahnya.

“Juuuiiiittttt….”

Akhirnya tibalah mereka di masa dan tempat yang dituju. Di kafe tempat Tobi dan Farah pertama bertemu.

“Yak tepat waktu. Di sinilah semuanya berawal. 10 menit lagi aku masa lalu akan datang memesan Frappucino dan tak lama kemudian Farah mengantri 3 antrian di belakangku. Aku kemudian duduk di bangku pojok sana, lalu Farah yang kehabisan kursi memohon ijin untuk duduk di depanku. Kita tunggu sebentar.” Terang Tobi

“Lalu apa yang akan kita lakukan. Rencana apa yang telah kau siapkan?”

“Aku telah menyiapkan pistol…”

“Sudah gila kau!!!” Potong Bara yang kaget dengan suara setengah teriak sehingga beberapa orang melihat mereka.

“Pelankan suaramu, aku mengajakmu tidak untuk mengacaukan rencanaku. Aku telah menyiapkan segalanya, dan inilah yang aku telah rencanakan. Jadi aku akan menembak diriku di masa lalu sesaat setelah aku masuk antrian pesanan. Semuanya akan terjadi selama kurang dari 2 menit. Aku akan mati dan tentu saja tak akan pernah bertemu dengannya. Sedangkan Farah mungkin hanya mengenaliku sebagai pemuda korban pembunuhan. Itu saja.Tolong mengertilah tentang keputusanku ini kawan, apa kau rela dengan keadaan diriku yang hancur berkeping-keping setelah semua yang telah terjadi? Apa kau rela melihatku yang selalu melamun dengan pandangan kosong dan menyiksa ragaku sendiri dengan pola makan tidur yang tidak teratur? Aku pikir inilah bunuh diri yang elegan itu. Yang lain dari biasanya.”

“Tapi apakah tak ada yang bisa kau pikirkan selain ini?”

“Ini yang terbaik”

“Baiklah kawan jika itu yang kau kehendaki. Sekarang apa tugasku?”

“Sekarang pergilah kembali ke masa depan dan segera hancurkan mesin waktu itu sesaat kau sampai. Agar tak ada orang lain yang menggunakannya”

“Itu saja?”

“Iya sesederhana itu. Setelah aku menembak aku masa lalu maka otomatis aku yang sekarang pun akan ikut mati. Dan terima kasih kawan telah mau menolongku. Aku bersyukur dalam hidupku punya teman sepertimu”

“Jadi ini pertemuan terakhir kita?”
Tobi mengangguk dan memberikan pelukan terakhir pada sahabatnya itu.

“Baiklah kawan. Jaga dirimu di alam sana”

Bara melangkah pergi dan kembali ke masa depan melalui mesin waktu. Sedangkan Tobi menyiapkan peluru pistolnya dan menyembunyikan di balik jaketnya, duduk menunggu dirinya di masa lalu datang ke kafe.

——

Bara telah kembali ke masa depan. Dia membuka pintu mesin waktu itu sambil mengusap air mata yang mengalir deras karena perpisahan dengan sahabatnya itu.

“Naaaah, kenapa lama sekali? 40 menit aku menunggumu. Weit, apa itu yang mengalir di pipimu? Dasar cengeng! Hahaha” Suara dan wajah itu seketika mengagetkan Bara. Bagaimana mungkin orang yang telah bunuh diri di masa lalu bisa ada di hadapannya?

“Kamu Tobi…?”

“Iya ini aku, Nobi sahabatmu”

“Bagaimana mungkin?”

“Sini aku jelaskan. Jadi saat itu aku di masa depan datang menemuiku yang sedang dalam antrian pesanan. Dia menarikku dan membawaku keluar kafe dan menjelaskan bahwa apapun yang terjadi setelah 1 tahun 3 bulan sejak kejadian itu maka biarkanlah terjadi. Jangan terjatuh. Justru aku harus tertawa menikmati semua petualangan hidup. Membiarkan semua berlalu sebagai sarana pendewasaan. Bila aku membiarkan diriku terjatuh begitu lama maka aku hanya akan menyia-nyiakan hidup dan terjadi selanjutnya hanyalah penyesalan penyesalan penyesalan yang berujung pada masa suram.”

“Lalu apa yang terjadi dengan dirimu yang datang dari masa depan saat itu?”

“Dia menembakkan pistol ke kepalanya, namun setelah itu dia menghilang. Sesuai dengan rumus kuantum fisika bahwa semua yang terjadi di masa lalu akan selamanya di masa lalu”

“Lalu apa yang kamu rasakan sekarang setelah menjalani patah hati yang teramat dalam itu?”

“Patah apa tadi katamu?”

“Hahaha…”
Dan kemudian mereka berdua tertawa terbahak-bahak.

One thought on “Lelaki dari Masa Depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s