Saat Nanti

Malam ini tiba-tiba teringat dua kawan lama yang semasa hidupnya kami begitu akrab.

Ariyanto (ary ryan)
Siswo Anjarnoto (mas sys)

Yang pertama adalah teman sekelas waktu kelas 3 SMA. Kami menjadi akrab saat bertemu di kota perantauan, Jakarta. Gareng, begitu aku memanggilnya, adalah pria yang kaku pada wanita, dia menaklukan wanita dengan cara melukisnya menggunakan pensil. Seorang navigator handal pengganti GPS untuk aku yang hobi nyasar di sini. Hahaha. Kami sangat akrab, saat tanggal tua biasanya ibu menyuruhku untuk sms dia dan mengundangnya datang ke tempatku. Ibuku yang punya warung makan kecil kemudian menyuruhnya untuk mengambil nasi dan lauk apapun yang dia suka. “Kalo makan masakan ibu kamu, aku inget masakan rumah. Masakan kampung” ~ kalimat yang selalu diucapnya sambil lahap menyendok habis makanan seporsi. Ah, banyak kenangan tentang dia. Terakhir kemarin aku ingat dia saat melewati sebuah jalan, saat itu kami berboncengan menyusuri pinggiran jakarta. Sesampai di Kelapa Gading dia mencari jalan alternatif yang bisa memotong jarak. Kita nyasar tapi akhirnya sampai juga di tempat yang kita tuju. Aku seperti mengalami de javu, aku ingat saat bersama Gareng aku begitu cerewet menanyakan “kenapa kita lewat gang sempit gini?”, tapi kemarin malam aku sendiri dan tersenyum-senyum ketika mengenangnya.

Yang kedua adalah teman akrab semasa kuliah. Aku ingat suatu saat dosen bahasa Jawa berusaha mengartikan nama kami berdasar etimologi kata. “Siswo itu murid, anjar itu raja, noto itu menata. Seorang murid yang akhirnya menata sang raja. Bisa diartikan sebagai seorang murid yang akhirnya menjadi gurunya raja.” Ah kalian harus melihat ekspresi wajahnya saat itu, dia begitu bangga dengan namanya. Jika membuka facebooknya maka kalian akan melihat profil picturenya adalah foto Pak Karno. Dia pintar memilih foto itu, karena diantara mereka memang ada kemiripan. Bukan soal cara bicara yang meledak-ledak tapi tentang kelihaian mereka memikat wanita. Siapa wanita yang tidak merasa ge-er saat didekati Siswo? Sosok yang hangat, ramah dan terbuka. Aku buaaanyak belajar dari sikap dia. Hahaha. Siswo juga punya banyak kawan akrab. Banyak orang yang mengenal namanya, banyak juga orang yang sekali berkenalan dengannya langsung begitu akrab. Semasa kuliah dulu, dia sering menjadi penasihat spiritualku. Bukan aku saja, ternyata banyak yang menjadikannya tempat bersandar curhat. Dia memang seorang yang tepat untuk dijadikan role model dalam bergaul.

Mereka berdua sahabat karibku. Sahabat yang dulu tempat berbagi tawa. Itu dulu, tapi akan selalu terkenang. Kadang bila mengenang orang yang telah meninggal, yang akan selalu teringat adalah tentang semua kebaikan mereka. Begitupun dengan mereka.

Ajal telah menghampiri mereka, aku tak mungkin bertanya tentang rasa sakitnya atau seberapa menyeramkannya rupa malaikat maut itu. Bagaimana bila ajal menemuiku nanti, akankah para sahabat tetap mengenangku? Berapa diantara mereka yang akan hadir menyolati dan mengantarku ke pemakaman?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s