Legenda

*setel lagu Piyu – Harmoni buat backsound*

Ehm, assalamualaikum.
Hai halo selamat malam, kamu. Atau mungkin lebih tepatnya selamat pagi atau mungkin siang, ehm mungkin juga malam. Ah ribet, selamat apa saja saat kamu membaca postingan ini. Kenapa tiap sapaan didahulukan kata “selamat” ya? Siapa juga yang dulu pertama kali menciptakan pendahuluan “selamat” ini? Kemungkinan besar ini adalah sebuah doa yang ditujukan untuk pendengar, pembaca, atau penyimak. Tapi aku juga curiga saat menemukan sapaan “selamat” ini, sang penemu dulunya sedang berhadapan atau bahkan sedang menulis surat perpisahan kepada mantannya pacarnya. Seperti aku. Hehehe akan butuh waktu 3 musim panas kali kalau kita terus muter-muter soal etimologi 1 kata itu saja. Oke, maaf, focus.

*hening*

Aku mendoakan kamu agar selalu selamat dan bahagia dengan  tawa renyah pada lengkungan gigi rapihmu itu.

Hae apa kabar?
Kamu kemarin nikah ya? Mudah-mudahan Allah member barokah pada kalian berdua.
Hehehe kabar bahagia yang aku tunggu-tunggu. Selamat ya!

Sekian, udah itu aja yang mau aku omongin ke kamu. Aku berusaha menyampaikannya dengan bahasa baku, formal dan berbahasa Indonesia yang baik dan tertuju langsung pada intinya. Hehehe.

*hening lagi* *tarik nafas*

*hembuskan* fyuhhhhhhh….

Aku mungkin masih sesosok orang yang tak pernah dewasa dan lebay di matamu, orang yang sama yang terpenjara pada masa lalu. Bagai seorang narapidana yang telah lama dipenjara, hukumanku makin lama makin berkurang. Aku mulai bisa merasakan damainya udara luar di balik pengapnya dinding masa lalu. Sejak kapan? Sejak pertama kali mendengar kabar kamu segera menikah. Sempat timbul pertanyaan “apakah dia sesosok pria pilihanmu atau mamamu?” ah, aku kagum orang itu berhasil menaklukanmu. Dia pasti hebat. Aku turut bahagia karena akupun ingin segera bebas dari sini, dari beban masa lalu, memulai segala bentuk petualangan baru. Aku tak mau dibusukkan sepi.

Selama ini aku begitu membenci 3 hal yang berkaitan dengan dirimu; bulan Desember, kenapa? Karena semua kenangan itu selalu muncul tiap hujan datang, kenangan tentang janji tak kesampaian. Sialnya, seakan semesta mendukung kegalauanku karena Desember adalah musim penghujan. Catatan di facebookku adalah bukti sahih hasil perbuatan hujan padaku. Oiya, 2 tahun belakangan aku selalu meniup lilin tiap Desember tanggal 26.

Hal kedua yang kubenci adalah sebuah kata “Serpong”. Malam tadi aku berusaha berdamai dengan Desember dan Serpong, aku mendatangi WTC Serpong tempat dulu kita bertemu. Pertama kali melihat petunjuk marka jalan arah Serpong tenggorokanku sudah tercekat, air ludahku tertahan tak bisa masuk ke mulut. Setibanya di WTC mulai menjadi-jadi saat paru-paruku terasa berat untuk bernafas. Saat itu mall sudah hampir tutup tapi aku memaksakan diri masuk ke dalam foodcourtnya dan mengira-ngira di mana kita duduk waktu itu. Ahh..

Setelah dari mall aku berjalan kaki ke belakangnya sembari mengingat momen saat aku ganti kaosku dengan baju di masjid itu. Aku tiba di luar rumah itu dan tersenyum. Kemudian aku berjalan menelusuri jalan samping mall. Suasananya pas, gerimis, persis saat kamu mengantar aku menuju angkot waktu itu. Pulangnya dari Serpong beban berat yang selama ini mengikat kakiku di penjara telah terlepas, langkahku mulai ringan, aku bisa merasakan diriku balapan lari dengan Usain Bolt. Aku tertawa sambil memacu sepeda motorku saat gerimis. Desember; bulan yang dulu aku janjikan untuk menikahimu dan Serpong; tempat pertama aku mengagumi salah satu ciptaan tuhan, kini telah berdamai denganku. (wkkk susunan kalimat yang sangat PRET sekali) Oiya, aku ke sana memakai baju putih bergaris yang kamu pilihkan untukku, bekas insiden setrikaanmu juga masih jelas. Baju itu baju keberuntunganku, dengannya aku selalu berhasil tiap interview kerja.

Satu lagi yang masih menjadi beban untukku; “Stasiun Purwosari”, tempat aku menunggu keretamu dari Surabaya. Tapi aku sudah memesan tiket ke Solo pulang pergi hari Minggu besok, setibanya di sana aku akan duduk-duduk di tempat aku dulu menunggu datangnya keretamu dengan cemas dan setelah itu, aku membebaskan kamu untuk pergi dari kepalaku. Sesukamu.

Kamu mungkin lebih tau bagaimana rasanya bisa bernafas dengan lega setelah berbagai masalah selesai menghampiri, tapi aku lebih tau rasa leganya setelah bisa terbebas dari 3 tahun penjara yang serasa seperti 3 abad itu.

Aku masih menyisakan sedikit kalau-kalau aku ingin bernostalgia dengan kisah cinta bersama mantanku yang legendaris ini, aku masih ingin mengingatmu sebagai kenangan, boleh kan?

Well, selamat berbahagia dalam mengarungi kisah baru untukmu dan untukku. Aku selalu berada di sini bila nanti kamu membutuhkanku.

Terima kasih untuk semua masa lalu itu.

Angga Agus Mujianto
(Ditulis saat subuh, sesampainya di rumah sesudah perjalanan itu. Entah berapa kali buka tutup Microsoft word dan berapa ribu kali tombol backspace dipencet. Ya tapi kan yang penting selesai juga postingan ini.)
Cilincing, 14 Desember

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s